Ulfa Ilyas; Pendidikan Yang Menguras Air Mata

6 Mei 2013

Murid berjuang keras menyebrangi jembatan rusak di sungai Ciberang, Banten. (Foto: http://pendhowo.com)

Murid berjuang keras menyebrangi jembatan rusak di sungai Ciberang, Banten. (Foto: http://pendhowo.com)

Kabar dari dunia pendidikan selalu menguras air mata. Hari ini, Minggu (5/5/2013), saya membaca berita tentang M Fajri (14), pelajar kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Padang yang dikeluarkan dari sekolahnya sejak 28 Maret 2013.

Tak hanya itu, Fajri tidak boleh lagi menuntut ilmu di Kota Padang. Ia dianggap merusak citra sekolah. Pasalnya, Fajri disangka terlibat percobaan pencurian pelek mobil. Meski begitu, Fajri belum divonis bersalah oleh pengadilan.

Keputusan sekolah itu menjadi malapetaka bagi keluarga Fajri. Ibunya, Dona Rosalia, sehari-hari hanya bergantung dari pekerjaan sebagai penjaja nasi goreng. Sedangkan ayahnya, Jasman, hanya buruh biasa di pabrik otomotif. Mereka tentu kesulitan biaya untuk mengirimkan anaknya bersekolah di luar kota Padang.

Kabar yang lebih menyedihkan datang dari Asrina, pelajar di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang nekat bunuh diri karena keinginannya untuk bisa mengenyam pendidikan di tingkat SMP terhenti akibat ketiadaan biaya. Ayahnya, Muhammad Natsir, hanya seorang buruh tani. Padahal, Asrina punya cita-cita ingin menjadi dokter dan mengabdi demi bangsanya.

Lanjutkan Membaca…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s