Muhammad Ridha Intifadha: Kebijakan baru BIDIK MISI di UI, memudahkan atau menyusahkan?

17 November 2012

10 November 2012, saya mengepost notes tentang kebijakan bidik misi UI di Facebook. Akan tetapi, keesokan harinya, note saya hilang bak ditelan bumi. Teman-teman saya pun ada yang menanyakan keberadaannya, ada pula yang memperingati saya untuk hati-hati, dan ada yang menyarankan untuk mempublikasikannya lagi.

Namun, pada senin, 12 November lalu, uang bidik misi (biaya hidup) pun sudah cair untuk 6 bulan, sehingga ada beberapa teman saya yang menerima bidik misi menyarankan untuk tidak usah kembali mengepost tulisan saya tersebut. Yah.. persetan dari itu semua saya pun mempublish ulang tulisan saya. Berikut adalah note FB saya yang sampai saat ini tidak bisa dipublish ulang karena termasuk konten yang diblokir.

Oktober lalu, saya melihat ada postingan terbaru di salah satu group di FB. Isinya adalah pemberitahuan mengenai Kebijakan pembukaan rekening baru bagi penerima beasiswa bidik misi angkatan 2010 dan 2011. Saya pun tertarik untuk mengkaji lebih lanjut kebijakan ini karena banyak pertanyaan yang kemudian muncul dan berputar dalam pikiran kepala saya di tengah kisruh statuta UI. Apalagi kebijakan ini melibatkan BNI dan UI yang semakin memperlihatkan adanya hubungan khusus antara keduanya. Berikut adalah hasil dari penelusuran saya dengan mewawancarai pihak-pihak terkait.

Pertanyaan yang pertama kali muncul adalah mengapa ada kebijakan seperti ini?

Saya mencari data dari DIKTI dan mendapatkan suatu buku pedoman mengenai bidik misi per 17 januari 2012.[1]Dalam buku pedoman tersebut, dikatakan bahwa Penyaluran bantuan biaya hidup mahasiswa on-going (sesuai nominal yang ditentukan) dilakukan oleh KPPN (Kantor Pelayanan Pemberdaharaan Negara) setempat melalui transfer ke rekening mahasiswa sesuai permintaanRektor/Direktur/Ketua PTN. Sedangkan bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan disalurkan ke rekening PTN.

Dari buku pedoman tersebut dapat dikatakan bahwa tranfer untuk biaya hidup (living cost) penerima bidik misi akan dilakukan oleh KPPN setempat. Berbeda dengan kebijakan sebelumnya di mana semua uang ditransfer dulu ke pihak UI, dikarenakan sistem keuangan sentralistik, barulah ditransfer ke masing-masing penerima beasiswa.

Penasaran, saya pun menanyakan pertanyaan ini langsung ke beberapa teman saya yang menerima beasiswa ini baik dari angkatan 2010 maupun 2011. Dan semua jawabannya adalah sama, yaitu biar turunnya cepat, karena katanya bakal ditransfer langsung oleh dikti dan tidak lewat UI dulu. Sebagian yang lain menyatakan agar bisa langsung ditransfer oleh KPPN.

Info lain yang saya dapat adalah dari teman saya, Deo, kepala divisi advokasi kesejahteraan mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (Adkesma BEM) FISIP tahun 2012 ini. Ia mengatakan bahwa, setiap tahunnya di web mahasiswa.ui.ac.id terjadi keluhan gagal transfer. Dalam hal ini, dikhawatirkan tabungan dari para penerima beasiswa itu nantinya expired. Dengan asumsi tersebut, maka muncullah asumsi bahwa daripada mengorbankan waktu lama untuk mengurus hal tersebut, UI berinisiatif untuk membuat rekening yang masa kadaluwarsanya tidak ada yang memang dibuat khusus bagi para penerima beasiswa.

Pertanyaan pun langsung kembali bergulir, yaitu memang bagaimana dengan kebijakan yang dahulu?

Dalam buku pedoman dikti dinyatakan bahwa PTN menyalurkan bantuan biaya hidup kepada mahasiswa per bulan atau maksimal 3 (tiga) bulan terhitung dari awal kalender akademik yang diberikan pada awal periode penyaluran melalui rekening bank yang ditunjuk. Namun, bagaimana dengan kenyataannya?

Salah satu teman saya yang menerima bidik misi berinisial AR mengatakan bahwa dengan kebijakan yang lama (sebelum ada kebijakan ini) biasanya uang diterima setiap 3 bulan sekali, itupun telat. Hal serupa dikatakan oleh teman saya penerima bidik msi lainnya berinisial AM. Bahkan, AM mengatakan bahwa pernah turun dalam 6 bulan sekali. Teman saya tersebut pun menyakan ke direktur kemahasiswaan, yaitu Pak Kamar. Beliau pun menanggapinya dengan jawaban bahwa UI memang berbeda, Birokrasinya agak ribet kalau di UI. Senada dengan jawaban itu, teman saya yang menerima bidik misi lainnya berinisial RH pun menyahut bahwa pada suatu rapat evaluasi beasiswa ini, dikatakan bahwa “beasiswa tidak kalian doang. Jadi harus sabar karena turunnya rada telat.”

Ingin tahu lebih lanjut saya pun menanyakan kepada teman saya yang sedang magang di PPMT berinisal AY. Ia mengatakan bahwa untuk perihal bidik misi, kenyataannya turun ke UI memang lama. Ia mendapatkan info ini setelah menanyakannya ke bagian mengurus beasiswa di PPMT. Terkendala di Lantai 4 gedung rektorat untuk masalah pencarian, lanjutnya. Apalagi ia merasakan birokrasi yang lama setelah mendapatkan jawaban yang sama yaitu dari Bu Lin, selaku Direktur keuangan rektorat, yang mengatakan bahwa kalau kita bukan hanya mengurus beasiswa BIDIK MISI.

Lebih jauh lagi, AY pun menjelaskan bahwa sistem ini berjalan dengan mekanisme awal adanya transfer uang dari DIKTI yang dikirim ke UI. Kemudian, Bu Kasiya (penanggung jawab beasiswa di UI) membuat surat, SK, dan dokumen lainnya untuk pencairan BIDIK MISI. Dokumen-dokumen tersebut diberikan kepada Bu Lin. Bu Lin lah sebagai kunci terakhir yang kemudian mensinnkronisasi apakah data yang diberikan benar atau tidak. Setelah data yang ada lengkap, bahwa uang memang benar telah ditransfer dan keperluannya jelas untuk BIDIK MISI, maka barulah uang beasiswa itu diberikan ke masing-masing penerima.

Setelah sedikit mengetahui latar belakangnya, saya akhirnya kembali bertanya apakah benar kebijakan ini dari DIKTI langsung? Lalu, mengapa harus BNI?

Seorang teman saya yang dikenal sebagai aktivis berinisial PD pernah menelepon DIRJEN DIKTI, yaitu Pak Djoko. Beliau mengatakan bahwa untuk masalah pembagian, alokasi, jumlah mahasiswa yang menerima, dan lain sebagainya itu ditetapkan oleh Universitas masing-masing. Dalam hal ini, masalah pendanaan tidak lewat DIKTI sama sekali, karena DIKTI hanyalah regulator (pembuat peraturan) semata. Jawaban ini pun diperkuat dengan apa yang tertulis di buku pedoman bidik misi, yaitu PTN berkewajiban memfasilitasi pembuatan rekening untuk masing masing penerima.

Hal senada pun diungkapkan oleh teman saya berinisial HA yang mendatangi kantor kemendikbud dan dikti secara langsung pada tanggal 22 oktober lalu. Berdasarkan informasi yang ia himpun, terdapat satu poin di mana Dikti sama sekali tidak menyuruh adanya kebijakan ini. Kebijakan ini adalah dari UI langsung. Poin berikutnya adalah rekening penerima beasiswa BIDIK MISI itu tidak harus BNI.

OK, di sini saya langsung mencoba fokus pertanyaan mengapa harus BNI. Saya pun menanyakan ke salah seorang aktivis senior berinisial HW. Ia mengungkapkan pada zamannya (tahun 2011 lalu), ia pernah mengkaji hubungan UI dan BNI. Pada tahun di mana isu mengenai gerakan #saveUI ini berjalan, ia mendapatkan bahwa BNI memegang kontrak di perpus pusat UI selama 27 tahun. Baginya, sebagai seorang mahasiswa ekonomi, temuan ini dirasa aneh. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan angkanya (dalam hal ini narasumber tidak menyebutkan) tidak mengukur inflasi, suku bunga, dan hal-hal lainnya yang dapat mengubah nilai dari uang itu sendiri. Ia menyontohkan bahwa uang bernominal 1000 pada masa sekarang akan berbeda nilainya pada beberapa tahun yang akan datang.

Akhirnya, saat ditanya mengenai tanggapannya atas kebijakan ini, HW pun menganggapnya sebagai suatu hal yang wajar. Dengan melihat sistem kapitalis yang ada, Bank dalam hal ini BNI akan diuntungkan dengan banyaknya akun rekening simpanan baru. Bank, lanjutnya, mendapatkan untung dengan melihat jumlah kredit dan debit yang ada. Semakin banyak simpanan, maka Bank akan semakin diuntungkan.

Pernyataan HW tersebut didukung oleh fakta sebagaimana dikemukakan oleh AM. AM mengatakan bahwa dengan kebijakan yang lama, rekening dari penerima beasiswa, mau-tidak mau, suka-tidak suka, harus diganti semua menjadi BNI. Hal ini pun berlaku pada penerima beasiswa dengan rekening BNI yang harus pula membuka rekening baru dengan bank yang sama, artinya penerima yang sebelumnya mempunyai  rekening BNI akan mempunyai dua rekening BNI dengan adanya kebijakan ini.

Akan tetapi, jawaban berbeda diungkapkan oleh salah satu teman saya penerima bidik misi berinisial TA. Ia mengungkapkan alasan yang cukup rasional bahwa BNI sebagai bank pemerintah akan membuat biaya transfer dapat diminimalisir, sehingga dimungkinkan tujuan dari kebijakan ini yaitu transfer yang cepat dan mudah dapat dicapai.

Ok, setidaknya pembaca sudah dapat sedikit gambarannya, lalu apa keuntungan dari kebijakan baru ini?

Secara umum, saya berkesimpulan dari jawaban-jawaban yang ada adalah mayoritas penerima belum melihat ada pengaruh positif secara signifikan atas adanya kebijakan baru ini. Pun kebijakan ini masih dalam proses. AY mengungkapkan bahwa urgensi atas kebijakan ini sebenarnya tidak ada, khususnya bagi angkatan 2010 yang sebentar lagi akan lulus karena akan menyusahkan dan merepotkan. Hal senada diungkapkan oleh Deo. Ia menggambarkan bahwa dengan kebijakan baru ini, mahasiswa akan direpotkan apabila terjadi masalah yaitu harus mengurus ke KPPN bukan lagi ke UI secara langsung. Saya pun berusaha mencari tahu di mana KPPN depok. Hasilnya Kota Depok termasuk dalam wilayah kerja KPPN Bogor dengan alamat kantor jalan Ir. H. Juanda nomor 62.

AM pun menanggapi bahwa kebijakan ini mempunyai kejanggalan. Hal ini dikarenakan ia masih belum juga mendapatkan haknya yaitu bantuan biaya hidup. Perlu diketahui bahwa dalam buku pedoman bidik misi 2012 dikatakan bahwa PTN menyalurkan bantuan biaya hidup kepada mahasiswa per bulan atau maksimal 3 (tiga) bulan terhitung dari awal kalender akademik yang diberikan pada awal periode penyaluran melalui rekening bank yang ditunjuk.

Fakta yang dialami AM adalah walaupun UTS telah berlalu, namun ia tetap tidak mendapatkan haknya. Menurutnya, signifikansi bahwa dengan kebijakan ini, transfer akan lebih cepat itu tidak ada. Ia menambahkan bahwa sebenarnya mempunyai asumsi rekening barunya telah memiliki isi saat pertama kali menerimanya. Hal senada juga diungkapkan RH, bahwa rekeningnya pun masih kosong.

Penutup

Saat ditanya oleh salah seorang teman mengapa mau mengkaji ini, saya hanya tersenyum dan berkata dengan satu kata “iseng”. Yah, rasa haus akan informasi dan naluri untuk mengkaji saya bangkit saat jengah dengan berbagai hal yang ada saat ini. Data-data yang saya tampilkan di atas mungkin hanya setengah dari data yang saya punya mengenai bidik misi. Untuk selanjutnya, saya akan menulis mengenai permasalahan bidik misi secara pendanaan dengan melakukan komparasi dengan universitas lainnya dan hal ini sangat berkaitan pula dengan kajian ini.

Di sini, saya tidak ingin berbagai asumsi liar saya menjadikan para pembaca sekalian menjadi buta dengan perspektif lainnya. Hal ini bisa saja dibuktikan (apabila mau) dengan menanyakan langsung ke pihak UI maupun BNI, untuk melihat perspektif lain mengenai kebijakan ini. Untuk itulah, saya hanya menuliskan data-data yang saya himpun sebagaimana ditulis di atas. Untuk analisis dan kesimpulan, saya lempar dan kembalikan ke pembaca.

Bila ingin mengetahui salah satu asumsi liar saya adalah dalam pasal 82 draft statuta UI versi 25 Oktober, yaitu mengenai permasalah soft loan. Dikatakan bahwa Universitas Indonesia dapat memfasilitasi Mahasiswa untuk memperoleh pinjaman jangka pendek maupun jangka panjang dari bank yang bekerja sama dengan Universitas Indonesia guna memenuhi kebutuhan biaya studinya, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pertanyaan gila saya adalah mengapa harus bank? Mengapa bukan pihak BUMN atau perusahaan swasta lainnya? Dan lagi mengapa hanya khusus bank yang bekerja sama dengan UI? Siapa saja bank yang bekerja sama dengan UI?

Terakhir, selamat berimajinasi dan berasumsi liar dengan mengembalikan kesimpulan ke masing-masing individu dengan perspektifnya masing-masing. Saatnya mahasiswa tidak buta dan sadar dengan permasalahan sekitarnya.

sumber:  Kebijakan baru BIDIK MISI di UI, memudahkan atau menyusahkan?.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s