Di sekolah kita belajar akan satu hal, kita belajar akan ketakutan ; bahwa kita bisa salah.

Murid berjuang keras menyebrangi jembatan rusak di sungai Ciberang, Banten. (Foto: http://pendhowo.com)

Murid berjuang keras menyebrangi jembatan rusak di sungai Ciberang, Banten. (Foto: http://pendhowo.com)

Kabar dari dunia pendidikan selalu menguras air mata. Hari ini, Minggu (5/5/2013), saya membaca berita tentang M Fajri (14), pelajar kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Padang yang dikeluarkan dari sekolahnya sejak 28 Maret 2013.

Tak hanya itu, Fajri tidak boleh lagi menuntut ilmu di Kota Padang. Ia dianggap merusak citra sekolah. Pasalnya, Fajri disangka terlibat percobaan pencurian pelek mobil. Meski begitu, Fajri belum divonis bersalah oleh pengadilan.

Keputusan sekolah itu menjadi malapetaka bagi keluarga Fajri. Ibunya, Dona Rosalia, sehari-hari hanya bergantung dari pekerjaan sebagai penjaja nasi goreng. Sedangkan ayahnya, Jasman, hanya buruh biasa di pabrik otomotif. Mereka tentu kesulitan biaya untuk mengirimkan anaknya bersekolah di luar kota Padang.

Kabar yang lebih menyedihkan datang dari Asrina, pelajar di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang nekat bunuh diri karena keinginannya untuk bisa mengenyam pendidikan di tingkat SMP terhenti akibat ketiadaan biaya. Ayahnya, Muhammad Natsir, hanya seorang buruh tani. Padahal, Asrina punya cita-cita ingin menjadi dokter dan mengabdi demi bangsanya.

Lanjutkan Membaca…

Kompas 19/4/2013

Keterbatasan fisik sering membuat orang merasa rendah diri dalam melakukan aktivitas di depan umum. Namun tidak bagi Agustinus Ukat warga Desa Taekas, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.

Lelaki Albino

Ayah enam orang anak dan lima orang cucu ini mengidap albino, jenis kelainan genetik atau kelainan bawaan yang disebabkan pigmen melanin tidak diproduksi, atau hanya sedikit produksi, sehingga sebagian anggota tubuh seperti rambut, mata, dan kulit akan berubah warna menjadi putih susu atau putih pucat. Dia memiliki iris merah muda atau biru dengan pupil merah.

Lanjutkan Membaca…

Kasus Kurikulum 2013

Oleh: Prof. H.A.R. Tilaar | Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta; Anggota Penasehat PB-PGRI; Anggota Penasehat Paguyuban Pendidikan Taman Siswa; Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

Disampaikan dalam acara diskusi terbuka “Mempertanyakan Hakikat Pendidikan STEAM [Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics] dalam Kurikulum 2013 untuk Merekacipta Masa Depan Bangsa” yang diadakan oleh Majelis Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Rabu 13 Maret 2013, di Balai Pertemuan Ilmiah – ITB, Bandung.

PENGANTAR

Dialog mengenai pergantian kurikulum dewasa ini dari Kurikulum KTSP menjadi Kurikulum 2013 menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai profesionalisme guru. Perubahan kurikulum sejak Indonesia merdeka yang ke-11 kali mengikuti pola yang sama yaitu mengalir dari atas ke bawah.[1] Dari konsep mengalir ke bawah dan harus dilaksanakan di sekolah oleh para guru. Perubahan tersebut ternyata bertentangan dengan hakikat ilmu pendidikan yaitu suatu ilmu yang teoretiko praktis. Artinya pendidikan merupakan suatu proses[2] yang diimplementasikan ke lapangan atau ke ruang kelas dan dari proses tersebut itu akan memberikan input kepada perubahan konsep. Oleh sebab itu kegagal-an suatu konsep kurikulum terletak kepada implementasi guru di lapangan. Tidak mengherankan apabila berbagai kegagalan di dalam penyempurnaan kurikulum dipersalahkan atau terletak pada tanggung jawab para guru. Suksesnya Kurikulum 2013 akan terletak pada para guru dan bukan kepada siapapun juga.

Lanjutkan membaca…

Oleh: Acep Iwan Saidi, Ketua Forum Studi Kebudayaan ITB
Dimuat di Kompas, 18 Maret 2013

Tanggapan Mendikbud terhadap beberapa penulis tentang Kurikulum 2013 (Kompas, 7/3/2013) menarik disimak. Tulisan saya sendiri, “Petisi Untuk Wapres” (Kompas, 2/3/2013) tampak menjadi fokus bahasan mendikbud. Oleh sebab itu, kiranya menjadi penting untuk memberi tanggapan balik.

Tapi, saya tidak akan menulis sebagaimana Mendikbud menulis. Saya pikir, tidak perlu membantah tanggapan Mendikbud. Biarkan teks itu menetap dalam kepala publik yang cerdas. Lebih bermakna kiranya jika mengelaborasi poin yang saya anggap penting dalam esei Mendikbud, yakni perspektifnya tentang bahasa Indonesia. Dengan ini diharapkan dialog akan konstruktif.

Strukturalisme Bahasa

Saya sepakat dengan Mendikbud bahwa selama ini pelajaran bahasa Indonesia tidak disenangi guru dan murid. Oleh karena itu, model pembelajarannya mutlak harus diubah. Saya sendiri berpendapat, pelajaran bahasa Indonesia tidak menarik karena pembelajarannya berpijak pada paradigma strukturalisme. Dalam paradigma ini, bahasa disikapi sebagai sistem (langue), bukan sebagai peristiwa dalam wacana (narrative discourse). Yang dipahami sebagai subjek, misalnya, adalah subjek dalam kalimat. Sebagai contoh, kalimat Budi pergi ke sawah dan Wati membantu Ibu di dapur hanya dipahami sebagai kalimat majemuk setara. Siswa tidak diberi ruang untuk mengerti mengapa Budi (laki-laki) yang harus ke pasar, sedangkan Wati (perempuan) hanya membantu ibu di dapur. Lebih jauh, semua siswa di seluruh Indonesia harus menerima Budi dan Wati dalam kalimat tersebut. Tidak boleh siswa Batak menggantinya dengan Tigor, siswa Sunda menukarnya dengan Ujang, dan seterusnya.

Lanjutkan Membaca…

Saat ini Kemendikbud sedang menyusun Kurikulum baru yang bakal digunakan pada tahun 2013. Uji publik juga sudah dimulai. Upaya ini dilakukan sebagian sebagai respons atas tawuran pelajar dan mahasiswa yang marak, dan sinyalemen keras bahwa kurikulum kita saat ini overloaded, terlalu banyak mata pelajaran yang disajikan di sekolah. Kemudian mata pelajaran IPA dan IPS dihapus di SD, dimasukkan secara tematik dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Agama, atau Kewarganegaraan. Disinyalir jumlah mata pelajaran yang terlalu banyak telah menyebabkan pembelajaran dangkal, bukan mendalam.

Dalam draftnya, kurikulum baru ini dikembangkan sebagai bagian dari strategi pengembangan pendidikan tiga dimensi. Dimensi pertama adalah peningkatan efektifitas belajar. Kurikulum dan pelaksananya, yaitu guru, menjadi kunci. Dimensi kedua, meningkatkan lama tinggal di sekolah hingga jenjang SMU melalui program Pendidikan Menengah Universal, atau program Wajib Belajar 12 tahun. Yang ketiga adalah menambah jam belajar di sekolah hingga sore hari. Ketiga strategi ini tentu perlu kita apresiasi. Tulisan pendek ini bermaksud memberi catatan kritis atas strategi tersebut.

Lanjutkan Membaca…

Iwan Pranoto; Guru Merdeka

20 Februari 2013

Tahun 1928 pada saat sejumlah pemuda mendeklarasikan jati diri bangsanya, dapat dikatakan itulah kelahiran resmi budaya bernalar di nusantara. Jika Sang Rasionalis René Descartes dianggap sebagai pencetus kebudayaan bernalar dan juga bidan revolusi sains, maka sesama penggila matematika Tan Malaka adalah penggagas budaya bernalar untuk bangsa kita. Malahan, lebih tiga tahun sebelum Sumpah Pemuda, Tan yang tak kenal kompromi ini sudah merumuskan gagasan keindonesiaan, disebarkan lewat brosur Naar de Republiek Indonesia.

Tan Malaka

Dengan kegigihannya bernalar, Sang Penyala yang kerap menganalogikan dirinya sebagai guru matematika, mengajak rakyatnya yang dianalogikan sebagai murid untuk bernalar aktif. Rakyat harus terlibat aktif bernalar dengan pemimpinnya. Bahkan dari dalam kubur sampai abad 21 ini pun, masih bergema jelas gaung dzikir ajakan bernalarnya, lewat suara para guru sejati. Sesungguhnya, harapannya pada republik yang berdasarkan nalar tetap menyala dalam kemilaunya mata pelajar dan keringat pendidik.

Lanjutkan Membaca…

sumber : indosiar.com

Blitar

Sebanyak 6 sekolah swasta di kota Blitar, Jawa Timur terancam ditutup oleh pemerintah daerah karena menolak memberikan tambahan pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam. Walikota Blitar mengeluarkan aturan yang mewajibkan setiap anak didik harus bisa membaca Al Quran.

6 sekolah swasta di kota Blitar yang diperingatkan oleh pemerintah kota Blitar karena tidak menerapkan pendidikan agama bagi siswanya yang beragama lain adalah SMA Katolik Diponegoro, STM Katolik, TK Santa Maria, SD Katolik Santa Maria serta SD Katolik dan SMP Yos Sudarso.

Ke 6 sekolah tersebut tidak bersedia memberikan tambahan kurikulum atau pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam. Pihak sekolah beralasan, penerapan kurikulum yang diberlakukan sekolahnya bisa diterima siswa ataupun wali murid.

Lanjutkan Membaca…

korupsi tulungagung

Kepada Yth
DPRD Tulungagung
di Tempat

Dengan Hormat,
Sehubungan saat ini sedang ada permasalahan hukum antara salah satu distributor buku dengan seseorang yang merupakan pengatur penyediaan buku di Tulungagung (copy berita terlampir), maka dengan ini kami memberitahukan sebagai berikut.

Bahwa dalam pengadaan buku SD dan alat peraga SD pada tahun 2010 yang sumber dananya berasal dari dana alokasi khusus (DAK) pendidikan, memang ada masalah, mulai proses pelelangan sampai pada pelaksanaannya.

Saat proses pengadaan berlangsung juga telah dilaporkan oleh elemen warga Tulungangung, yang mendapat bocoran pertemuan antara kepala dinas pendidikan, Bambang Kardjono, bersama Indra Fauzi (sekarang sekda kab Tulungagung) dengan para mafia pendidikan yakni Liauw Inggarwati cs di hotel elmi & hotel mojopahit Surabaya, dalam rangka mengatur pengadaan itu (foto2 dan berita pertemuan itu pernah dilaporkan pada Bupati, DPRD dll, bahkan pernah diungkap di media massa, tapi sampai sekarang belum ada respon. Dimana bocoran foto2 dan hasil pertemuan itu berasal dari salah seorang yang ikut pertemuan, tapi tidak puas dengan hasil pertemuan)

Lanjutkan Membaca…


“Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.” Albert einstein